Meksiko 1986 – Kisah Dibalik Pemilihan Tuan Rumah Piala Dunia

Pagelaran Piala Dunia 1986 di Meksiko merupakan salah satu gelaran Piala Dunia yang menuai sukses besar. Ditambah dengan aksi Diego Armando Maradona yang membuat penonton terpukau dengan keahliannya dalam mengocek bola. Namun, dibalik itu juga banyak hinaan kepada Maradona dikarenakan aksi dari tangan Tuhannya.

Sebenarnya Meksiko hanyalah sebagai pengganti untuk Piala Dunia 1986. FIFA telah memilih Kolombia untuk menjadi tuan rumah, negara yang tengah dilanda ekonomi yang buruk dan korupsi yang merajalela dalam sepakbola. Namun, diakhir tahun 1982, Kolombia mengatakan bahwa mereka tidak sanggup untuk mendanai turnamen sebesar Piala Dunia.

AS, Kanada, dan Brasil juga mengajukan diri untuk menjadi tuan rumah pengganti, akan tetapi setelah FIFA menggelar rapat pada bulan Mei 1983 di Stockholm, Meksiko langsung terpilih oleh FIFA dengan menghiraukan tawaran dari negara lain.

Akhirnya diketahui bahwa turnamen Piala Dunia ini akan ditayangkan oleh perusahaan penyiaran Meksiko, yakni Televisa. Dimana, presiden perusahaan Televisa adalah teman dekat dari petinggi FIFA Joao Havelange dan membuat negara AS marah.

Baca JugaPiala Dunia 1986 : Lahirnya Gol Ajaib “Tangan Tuhan”

Negara Meksiko juga saat itu tengah dilanda krisis ekonomi yang disebabkan oleh warga negaranya sendiri. Tingkat pengangguran warganya sangat tinggi dari yang pernah ada selama ini dan juga sedang dilanda hawa panas yang berkepanjangan.

Kemampuan Meksiko untuk menggelar turnamen ini juga sempat diragukan dikarenakan baru saja diguncang gempa bumi yang sangat besar. Gempa yang menelan 20.000 korban jiwa dan membuat 150.000 orang kehilangan tempat tinggal ini menimbulkan kerugian sebesar 4 triliun dollar. Dengan batas waktu persiapan yang hanya tersisa delapan bulan dengan situasi yang kacau, FIFA tetap mengijinkan Meksiko untuk menjadi tuan rumah.

Piala Dunia 1986 akan selalu dikenang sebagai miliknya Maradona. Pelatih Timnas Argentina, yakni Carlos Bilardo telah membentuk sebuah tim yang berfokus hanya untuk mengakomodasi sang bintang yang mempunyai sifat tempramental ini. Kontribusi yang diberikan sang bintang ini sebanding dengan kontribusi pele pada Piala Dunia 1958.

Walaupun hampir seluruh dunia membicarakan Maradona, Brasil masih tetap difavoritkan untuk menjadi juara. Sementara Timnas Jerman dibawah asuhan Franz Beckenbauer, sering berselisih dengan anak asuhnya sendiri sepanjang turnamen.

Dari Britania Raya telah mengirim tiga perwakilannya, yakni Irlandia Utara, Inggris dan Skotlandia. Perbincangan juga terjadi dalam Timnas Inggris dimana kondisi Bryan Robson yang tengah dilanda cidera bahu. Namun, pelatih Inggris Bobby Robson tetap untuk menurunkan gelandang favoritnya itu, hingga akhirnya Bryan harus tersungkur pada menit ke empat pada laga kedua Timnas Inggris.

Sementara itu, Skotlandia yang berusaha untuk bangkit setelah ditinggalkan manager Jock Stein. Jock Stein terkena serangan jantung pada momen akhir babak kualifikasi. Akhirnya, mereka dikomandoi di babak play off dan final oleh Alex Ferguson.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *