10 Fakta Piala Dunia 1978 Argentina

Kilas balik Piala Dunia 1978 menghadirkan 10 fakta, antara lain:

  1. Johan Cruyff menolak tampil di Belanda dengan alasan ada kawanan yang tidak dikenal menodong dengan pistol di rumahnya di Barcelona. Cruyff lebih memilih menemani keluarganya dibandingkan dengan harus pergi ke Piala Dunia 1978.
  2. Hal unik pada Piala Dunia 1978 yang bernama Confetti. Confetti merupakan suatu perayaan para penonton setiap kali tuan rumah bertanding. Mereka menghamburkan potongan kertas putih setiap kali Argentina bertanding. Anda dapat melihat rekaman video final antara Argentina dan Belanda, mereka seperti bertanding pada lapangan bersalju.
  3. Hal menarik juga terjadi pada pertemuan antara Prancis dan Hungaria, dimana kostum kedua tim tampak mirip bagi para pemirsa. Hal ini dikarenakan televisi argentina masih hitam putih. Akhirnya panitia meminjamkan kostum klub lokal Club Atletico Kimberley dengan motif garis hijau – putih secara vertikal. Ini kali pertama dalam sejarah dan mungkin terakhir sebuah tim peserta Piala Dunia tidak menggunakan kostum kebesarannya.
  4. Clive Thomas, seorang wasit Piala Dunia asal Wales yang dijuluki “The Book“. Wasit ini selalu membawa buku peraturan Piala Dunia.
  5. Tepat pada Piala Dunia 1978 di Argentina menjadi saksi lahirnya gol Piala Dunia ke – 1000. Pemain asal Belanda yang mencetak gol keramat itu adalah Rob Rensenbrink. Gol ini lahir dari titik penalti pada saat Belanda melawan Skotlandia.
  6. Salah satu pemain Skotlandia, yakni Willie Johnston kedapatan FIFA positif menggunakan doping dan akhirnya pemain yang berprofesi sebagai pemain sayap Skotlandia dikeluarkan dari turnamen.
  7. Pada Piala Dunia 1978 terjadi insiden Ramon Quiroga. Insiden kontroversi ini disebutkan bahwa Peru sengaja mengalah kepada Argentina yang dimana Argentina butuh kemenangan besar untuk lolos ke putaran final Piala Dunia 1978. Argentina menang telak 6 – 0 atas Peru dan menyingkirkan Brasil untuk lolos pada putaran final Piala Dunia 1978.
  8. Kontroversi lain terjadi menjelang laga final. Argentina meminta pergantian wasit Abraham Klein asal Israel. FIFA menyetujui permintaan itu dan menunjuk Sergio Gonella untuk memimpin final. Diketahui, Abraham Klein adalah wasit yang memimpin pertandingan Argentina melawan Italia yang hasilnya dimenangkan Italia dengan skor 2 – 1.
  9. Belanda mengisahkan kejadian dimana bus mereka dilempari batu oleh pendukung tuan rumah. Pada babak final, kapten Daniel Passarela juga melayangkan protes terhadap wasit Gonella dimana perban yang digunakan oleh Rene van de Kerkhof disuruh dilepaskan oleh wasit. Perban ini sudah dipakai Rene pada pertandingan sebelumnya dan tidak pernah ada masalah.
  10. Politik tidak bisa dilepaskan dari sepakbola. Adanya Piala Dunia 1978 membuat suksesnya kampanye protes para ibu – ibu terhadap rezim Videla. Gerakan Asociacion Madres de Plaza de Mayo ini memprotes Videla atas penculikan ribuan orang yang telah dilakukan pada masa rezim Videla sejak 1976.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *